Posted by: qecena on: Februari 18, 2008
Untuk saat ini, aku me-rindu-kan mereka, aku di-cemeti oleh peringatan Hari Pahlawan ini, yang di tahun 45 dulu, telah mengorban-kan begitu banyak nyawa, mereka para pejuang, bahkan kakek dan nenek kita. Jadi, sekarang, Aku hanya ingin ber-dialog dengan mereka, meskipun aku sadar mereka mungkin tidak mau ber-dialog dengan aku, jadi yah lebih baik aku ber-monolog, untuk setidaknya, men-dongeng-kan sesuatu ke mereka, sekedar men-ceritakan kepada mereka, apa yang aku rasa-kan dan apa yang aku lihat, juga apa yang aku ingin kan:
Kau tahu…
Geliatmu waktu itu, Ketika aku belum lahir
Bahkan Bangsaku pun belum lahir
Nafasmu beraroma darah
Darah mereka yang mengkangkangkan kakinya di bumi pertiwi
Keringatmu tercium seperti bau melati
Wangi menyayat setiap irisan kebebasan yang kami raungkanAku tahu…
Geliatmu saat ini, Ketika aku sudah lahir
Bahkan Bangsaku pun sudah hampir mati
Nafasmu beraroma darah
Darah mu sendiri, mengalir dari tikaman bangsaku
Keringatmu tercium seperti bau kamboja
Wangi meninggalkan bumi, SendiriKau Tahu…
Kau dulu kubutuhkan
Sekarang kau kubuang
Kau dulu kuagungkan
Sekarang kau kunistakan
Kau dulu kukejar
Sekarang kau kutinggalkanAku Tahu…
Tulang mu yang dulu kupakai membelaku
Sekarang berserak rapuh
Tangan mu yang dulu kupakai memberiku nasi
Sekarang mengulurkan tangan meminta tuk kuberi makanBer-doalah untuk aku Pahlawan-ku, aku ingin berjuang seperti dulu kau berjuang, aku ingin mengingatkan bangsaku juga untuk berjuang seperti dulu kau berjuang.